SEJARAH PESANTREN

Merupakan salah satu dari sekitar 40 lembaga Pendidikan yang ada di Yayasan Perguruan Islam As-syafi’iyah, sekolah dari Taman Kanak-Kanak hingga Universitas, Pesantren Khusus Yatim, Majlis-majlis Taklim dan berbagai organisasi didalamnya. Pendiri Utama dari Perguruan Islam As-syafi’iyah ini adalah Alm. KH. Abdullah Syafi’ie (10/8/1910-3/9/1985). Beliau dikenal sebagai tokoh yang tegas, penuh semangat perjuangan dan kharismatik, beliau merupakan ulama besar dari Betawi. Saat Peresmian Pesantren PUTRA pada hari itu dihadiri ribuan orang, adalah juga hari peletakan batu pertama pembangunan Pesantren PUTRI diatas lahan 2,5H letaknya di Desa Jatiwaringin, Jakarta Timur. Cita-cita KH. Abdullah Syafi’ie adalah menjadikan desa yang awalnya penuh rawa tersebut sebagai MADIINATUTH-THULLAAB, artinya KOTA PELAJAR. 

Putri sulungnya, Almh Prof. DR. Tutty Alawiyah AS, MA ditunjuk oleh beliau sebagai ketua sekaligus penanggung jawab pembangunan pesantren Putri. Bahkan dahulu, projek pendirian Pesantren Putri As-Syafi’iyah ini disebut sebagai “PROJEK PEMBANGUNAN PESANTREN Dra. Hj. Tutty Alawiyah AS”, karena banyak dana yang terhimpun dari Majelis Taklim. Dengan kerja keras dan dukungan dari berbagai pihak, alhamdulillah setahun kemudian Pesantren PUTRI As-Syafi’iyah diresmikan dan dimulai kegiatan belajar mengajar, tepatnya pada tanggal 15 Januari 1977.  Alm. KH. Abdullah Syafi’ie mengamanatkan pengasuhan dan pengelolaan Pesantren PUTRI As-Syafi’yah Jatiwaringin kepada putri bungsunya, Almh Ustz. Hj. Ida Farida AS dengan didampingi oleh suaminya Alm. Uztadz HM. Agus Alwy. Keduanya memimpin Pesantren PUTRI dengan menangani langsung program-program kegiatan yang dilaksanakan baik di dalam kelas maupun kegiatan ibadah dsbnya.

 

Meskipun pembangunan fisiknya baru selesai sekitar 40% namun dengan izin ALLAH SWT kegiatan belajar mengajar tetap dapat berlangsung dengan baik, Alhamdulillah wasyukrulillah. Kini banyak yang telah berubah dari sejak PUTRI diresmikan, beberapa fasilitas utama telah dibangun kembali, karena sudah termakan usia juga untuk memperbaiki fasilitas dan demi memajukan PUTRI. Seperti contohnya Aula Pesantren, kerusakannya sangat berat dan tidak bisa hanya direnovasi. Pembangunan kembali Aula tersebut memakan waktu yang tidak sebentar, 10 tahun. Aula yang kini dinamakan Aula Putri ‘Rugayyah’ diambil dari nama almh. Ibunda dari Ustzh. Hj. Ida Farida AS yang meninggal pada saat beliau masih bayi. Para santri datang dari 17 Propinsi, dari Nangroe Aceh Darussalam hingga Papua, bermukim di sini. Beberapa orang pelajar pernah datang dari Negara Singapura, Malaysia dan Amerika, bahkan pernah ada dari London, dan Rumania (anak Indonesia berdomisili di LN) mereka belajar agama dengan tekun.

Kami seluruh keluarga besar Pesantren Putri As-Syafi’iyah kini meneruskan perjuangan orangtua kami, guru kami, idola kami, Almh. Hj. Ida Farida AS dan Alm. H.M. Agus Alwy, mengabdi di pesantren PUTRI, semata karena ALLAH dan mencintai pendidikan. Insya ALLAH.

Pendiri As-Syafi’iyah

KH. Abdullah Syafi’ie adalah seorang Ulama Besar di Jakarta sangat dikenal oleh masyarakat luas, bukan saja di Jakarta dan sekitarnya, bahkan di Indonesia, khusus nya oleh Muslimin dan Muslimat yang selalu mengikuti kegiatan dakwahnya yang secara langsung disampaikan di Masjid-Masjid, Madrasah atau tempat lainnya dalam rangka Dakwah Islamiyah yang dilakukan selama puluhan tahun secara rutin. Juga dapat diikuti ceramahnya yang lantang dan menyentuh hati melalui Radio yang merupakan media dakwah yang sangat luas jangkauannya sebagai suara petunjuk dan penyejuk hati bagi pendengarnya.

KH. Abdullah Syafi’ie bukan saja seorang Da’i yang sangat dikagumi oleh jutaan pendengarnya, tapi beliau juga sebagai seorang yang sangat peduli dengan pendidikan dan pengajaran, khususnya dibidang pendidikan Islam bagi generasi pelanjut, penerus cita-cita dan perjuangan. Berpuluh sekolah/lembaga pendidikan dibangun dan dikembangkan dengan cepat dan lengkap. Berjenjang dari yang terendah TK sampai Perguruan Tinggi / Universitas. Pesantren ada dibeberapa lokasi, bahkan ada pesantren khusus bagi anak-anak yatim/miskin dan SLB tuna grahita dan tuna rungu. Dari sekolah formal bagi putra-putri sampai lembaga kursus bagi ibu-ibu dan bapak-bapak. Dan bagi jamaah ada beberapa majelis taklim ada berpuluh kitab hasil karyanya pun sangat diminati sebagai bahan pelajaran disekolah atau majelis taklim. Ceramah-ceramah beliau tersimpan dan terekam baik dalam kaset dalam jumlah yang sangat banyak.

KH. Abdullah Syafi’ie dicintai oleh murid-murid, santri-santri dan jamaahnya, dikagumi oleh yang mengenalnya dari dekat dan berjumpa satu atau dua kali saja. Teman dan sahabatnya sangat banyak dan luas, dari kalangan seprofesi (ulama), pejabat pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat dari berbagai organisasi Islam dalam dan luar negeri. Pribadinya dikenal luwes, tegas, tawadhu’ penyayang, penuh perhatian, gigih dan pekerja keras, santun, bicaranya lugas dengan dialek betawi yang kental namun mengena ditelinga dan hati pendengarnya. Saat dipanggil ALLAH SWT diusia 75 tahun, (3 September 1985) jenazahnya diantar oleh ratusan ribu orang berjalan kaki dari kediaman beliau diBalimatraman ketempat peristirahatan terakhir di komplek Pesantren Putra As-syafi’iyah Jatiwaringin. KH. Abdullah Syafi’ie kini tidak lagi hadir ditengah kita, namun warisan ilmu dan pendidikan yang diberikan oleh beliau telah berhasil menciptakan ribuan guru/ustadz/ustadzah terdiri dari putra dan putrinya dan murid-murid yang meneruskan cita-cita dan perjuangannya. Beliau tetap dihati pecintanya sebagai tokoh kharismatik dan dikenang sepanjang waktu. Semoga ALLAH SWT mengampuni segala kehilafannya, menerima semua amal-amal dan ibadahnya, serta menjadikan kuburnya Raudhoh min riadil jannah. Aamien Ya Rabbal ‘Alamien.

Pimpinan Pesantren

Hj. Ida Farida binti K.H. Abdullah Syafi’ie ( 1951-2009 )

Lahir dan dibesarkan di Jakarta dari keluarga Betawi, putri K.H. Abdullah Syafi’ie dan Ustadzah Hj. Rugayyah binti K.H. Ahmad Mukhtar.

Sepeninggal ibunda dari Ustazah Hj. Rugayyah, Ibu Ida Farida yang saat itu masih bayi dibawa ke rumah al Habib Salim bin Thoha Al Haddad untuk disusui oleh istrinya, yang bernama Syarifah Zulfah binti Ahmad bin Abdullah Al Jufri. Dengan mengalirnya asi didalam tubuh Ibu Ida yang diberikan oleh Umi Zulfe (panggilan istri Habib Salim) mengalir pula cinta kasih mereka hingga akhir hayatnya. Allaahummaghfir lahumaa warhamhumaa wa’aafihimaa wa’fu anhumaa.

Ibu Ustadzah Hj. Ida Farida AS mendapat pendidikan agama dari Ibtidaiyah-Tsanawiyah dan Aliyah di As-Syafi’iyah. Pendidikan umum di ikuti dari SD, SMP dan SMA Negeri. Dan pendidikan terakhirnya di perguruan tinggi fakultas dakwah di Universitas Islam As-Syafi’iyah. Aktif dalam berbagai kegiatan sekolah antara lain dibidang organisasi, pidato, kesenian, drum band, dan penyiar radio.

Menikah dengan putra Betawi Ustadz H. Muhammad Agus Alwy ( 1941-2014 ) pada tanggal 26 Mei 1972, beliau merupakan alumni dari Perguruan As-Syafi’iyah, kemudian melanjutkan ke Pondok Modern Gontor. Setelah beliau mendapat gelar Sarjana I Universitas Muhammadiyah di Jakarta melanjutkan kuliah di Universitas Islam Madinah Al Munawwarah Saudi Arabia. Ustadzah Ida Farida dan Ustadz H. Muhammad Agus bukan hanya sebagai pimpinan, guru dan orang tua bagi santri, namun juga sebagai panutan sekaligus idola dalam mengabdi serta mengurus Pesantren PUTRI dari sejak diresmikan hingga akhir hayat mereka. Keduanya dikaruniai tiga orang putra dan tiga orang putri, yang bernama H. Ahmad Barliansyah, H. Anton Fathoni, H. Muhammad Uwais Firmansyah, Fairuz Andalusia, dr. Salsabila Firdausia, dan Akida Salima.

Ibu ustadzah. Hj. Ida Farida mengurus dan terus membangun serta mengembangkan Pesantren PUTRI As-syafi’iyah sejak tahun 1977 hingga akhir hayatnya. Tahun 1984 beliau mendirikan TK Islam Assyafiiyah 02 Jatiwaringin dan menjabat sebagai Kepala Sekolah hingga tahun 2008, 1998 – 2008 beliau merupakan Guru dan Penceramah tetap di Majelis-majelis Taklim di Wilayah DKI, Bogor, Tanggerang, Bekasi. Sejak tahun 1988 – 2008 beliau secara rutin diundang sebagai Penceramah di negara Singapura, Brunei Darussalam dan Malaysia. Beliau juga diundang berceramah di Kedutaan Besar RI di Hongkong beberapa kali. Diundang mendampingi kakaknya, ustadzah Hj. Tutty Alawiyah AS di Kedutaan Besar RI di Washington DC, USA. Sejak tahun 1996 – 2008 beliau mengikuti organisasi sebagai Ketua I Pengurus Pusat Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) juga sebagai Ketua BKMT DKI Jakarta. Sejak tahun 1981 – 2008 beliau memimpin Majelis Taklim mingguan Al-mar’atus Shalihah, di Pesantren Putri.